Rabu, 08 Juni 2016

Makalah Lethal Dose (LD) 50

Edit Posted by with No comments

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas segala rahmat, berkah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas yang bejudul “Lethal Dose (LD) 50” sebagai salah satu syarat yang diajukan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah ADKL.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya tugas ini berkat bantuan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan terima kasih serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1.    Bapak Hidayat, SKM., M.Kes selaku dosen pengampuh mata kuliah ADKL.
2.    Rekan-rekan mahasiswa D.IV angkatan 2013 Jurusan Kesehatan Lingkungan yang tidak dapat disebutkan satu-satu yang senantiasa memberikan semangat dan dorongan dalam penyelesaian tugas ini.
3.    Keluarga yang senantiasa memberikan dukungan moril maupun materil.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini tidak luput dari kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kepada para pembaca, kiranya dapat memberikan sumbangan pemikiran demi kesempurnaan dan pembaharuan tugas ini.
Akhir kata segala Puji bagi Allah dan semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada kita dan tugas ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Makassar,  April 2016

Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... .... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ......................................................................................... 1
B.    Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.     Lethal Dose (LD) 50 ................................................................................ 3
B.    Penentuan LD50 ...................................................................................... 5
C.   Prosedur Pengujian LD50 ........................................................................ 9
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan .............................................................................................. 12
B.    Saran ........................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA

                                           


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Toksikologi lingkungan adalah bidang ilmu yang mempelajari racun, yaitu berbagai senyawa kimia yang dapat mengakibatkan bahaya ketika masuk ke dalam tubuh makhluk hidup melalui mulut atau kulit di dalam lingkungan. Toksikologi termasuk  bidang ilmu yang terpadu yang melibatkan berbagai disiplin ilmu lain seperti bidang kedokteran, farmasi, biokimia, kimia murni, kimia analitik dan bidang ilmu-ilmu lain yang relevan dengan bahaya zat kimia.
Toksikologi lingkungan dibahas dalam kimia lingkungan karena berhubungan dengan adanya perubahan lingkungan yang disebabkan oleh kehadiran zat kimia. Beberapa bahasan yang dibahas dalam toksikologi lingkungan umumnya ang berhubungan dengan uji toksisitas, yaitu menggunakan pengujian zat kimia terhadap makhluk hidup. Toksikologi lingkungan juga m membahas tentang cara dan mekanisme masuknya zat kimia dan daya racunnya yang mempengaruhi makhluk hidup sehingga dihasilkan data tentang pengaruh fisiologi dan biokimia terhadap makhluk hidup yang akan dapat dipergunakan sebagai rujukan dan pembenaran ilmiah terhadap bagian-bagian tubuh makhluk hidup yang dipengaruhi oleh daya racun suatu zat kimia.
Beberapa bidang ilmu yang menjadi jangkauan toksikologi lingkungan  secara khusus meliputi forensic yang selalu melibatkan Kimia Analitik dalam menjelaskan keberadaan zat kimia yang dapat menjadi racuk kepada makhluk hidup,umumnya yang berhubungan dengan aspek legal pemberian zat kimia dalam proses dan aktivitas suatu pengobatan, sehingga diperoleh informasi yang akurat penyebab suatu kematian. Pada bidang kedokteran, toksikologi membahas tentang zat kimia yang berhubungan dengan penyakit, yaitu melihat terjadinya suatu penyakit yang diakibatkan oleh kehadiran zat kimia dalam tubuh. Sementara di dalam lingkungan, toksikologi dipergunakan untuk mempelajari pengaruh polutan terhadap kehidupan di dalamsatu ekosistem, yang secara analogi dianggapakan berlaku juga untuk kehidupan manusia.

B.     Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui apa itu LD50
2.    Untuk mengetahui jeni-jenis penentuan LD50
3.    Untuk mengetahui prosedur pengujian LD50





BAB II
PEMBAHASAN


A.     Lethal Dose (LD) 50
LD50 didefinisikan sebagai dosis  yang mematikan terhadap 50 persen dari kelompok hewan yang diuji.
LD50 adalah dosis tertentu yang dinyatakan dalam miligram berat bahan uji per kilogram berat badan (BB) hewan uji yang menghasilkan 50% respon kematian pada populasi hewan uji dalam jangka waktu tertentu.
Konsep tentang LD50, dosis letal median, dikembangkan oleh Trevan sebagai grafik indeks toksisitas, yang mendefinsikannya sebagai satuan dosis tiap satuan  bobot hewan yang bisa membunuh setengah dari kelompok hewan yang sangat besar menggunakan data kuantitatif yang akurat. Nilai angka yang lebih rendah dalam LD50 menunjukkan toksisitas yang lebih besar dari dosis yang lebih tinggi.Hanya kematian dan kebertahanan untuk hidup yang dicatat; efek-efek yang tidak mematikan termasuk keparahan tidak diperhitungkan.
Plot grafik dosis yang diberikan terhadap respon yang muncul diperoleh kurva sigmoid yang simetris jika peningkatan dosis bersifat logaritmik (titik 50 persen atau median bisa diekstrapolasikan dan simpangan baku serta kemiringan bisa dihitung) Kemiringan menunjukkan rasio antara peningkatan dosis dan respon. LD50 memiliki nilai forensik, dan estimasinya diperlukan untuk memenuhi persyaratan peraturan. Sangat penting untuk mengkarakterisasi hambatan industri dan kecelakaan yang mungkin bisa menjadi hasil yang fatal.
LD50 bisa dihitung baik dengan metode grafik maupun non-grafik dan data numeriknya bisa dihitung dengan perangkat pengolah.
Lethal dose 50% (LD50) yaitu disis zat kimia yang akan membunuh sebanyak 50% dari populasi yang dapat kontak langsung  dengan zatb kimia yang dicobakan. Ukuran LD50 adalah berdasarkan berat tubuh dan dinyatakan dalm bentuk unit mg/kg (milligram racun per kilogram berat badan makhluk hidup).  Beberapa kelemahan dari ukuran LD50 adalah ditemukan kenyataan bahwa besar LD50 masih tergantung  pada jenis species makhluk hidup yang menjadi objek percobaan. Dengan demikian ukuran LD50 untuk tikus akan berbeda dari ukuran LD50 untuk kelinci atau binatang pengerat yang lainnya. Namun demikian ukuran LD50 digunakan sebagai perbandingan umum tentang potensi racun yang dimiliki oleh zat kimia terhadap makhluk hidup sehingga manusia dapat menghindarkan bahaya yang disebabkan oleh daya racun yang dimiliki oleh zat kimia. Ukuran LD50 dapat juga disebut sebagai LD50 rendah atau LD50 tinggi, yaitu berbagai untuk menggambarkan potensi rendah dan tingginya daya racun suatu zat kimia di dalam tubuh makhluk hidup, sehingga informasi LD50 yang dimiliki zat kimia tersebut. Beberapa contoh LD50 dari beberapa senyawa kimia yang sering ditemukan di dalam lingkungan diperlihatkan pada tabel berikut :
Tabel. Besaran LD50 beberapa senyawa kimia terhadap makhluk hidup
LD50 (mg/kg)
Nama senyawa alamiah
Nama senyawa sintetik
>10.000.000
1000

100
1
10-2
10-5
Gula pasir
Garam, etanol, phyretrin

Kafein
Nikotin
Bisa ular
Tetanus
-
Malathion, glyphospate, aspirin
DDT, codeine, paracetamol
Strychnine
-
-

Penentuan LD50 dapat dilakukan dengan membuat perlakuan terhadap sekelompok hewan percobaan seperti tikus, kelinci dan hewan lain dengan memberikan dosis zat kimia bervariasi (perkalian) misalnya 1x, 2x, 4x, 8x dan seterusnya 9mg zat kimia per kg berat badan), dan sebagai control dibuat sekelompok  hewan yang tidak  diberikan zat kimia.
Nilai LD50 berguna dalam beberapa hal:
1.    Klasifikasi zat kimia berdasarkan toksisitas relative.
2.    Pertimbangan akibat bahaya dari overdosis
3.    Perencanaan studi toksisitas jangka pendek pada hewan
4.    Menyediakan informasi tentang:
a.    Mekanisme keracunan
b.    Pengaruh terhadap umur, seks, inang lain, dan faktor lingkungan
c.    Tentang respon yang berbeda-beda di antara spesies dan galur
d.    Menyediakan informasi tentang reaktivitas populasi hewan-hewan tertentu
e.    Menyumbang informasi yang diperlukan secara menyeluruh dalam percobaan-percobaan obat penyembuh bagi manusia
f.      Kontrol kualitas. Mendeteksi kemurnian dari produk racun dan perubahan fisik bahan-bahan kimia yang mempengaruhi keberadaan hidup.

B.     Penentuan LD50
Tujuan dilakukan penentuan LD50 adalah untuk mencari besarnya dosis tunggal yang membunuh 50% dari sekelompok hewan coba dengan sekali pemberian bahan uji. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
Ø  Metode Weil
Rumus: Log m = log D + d (f + 1)
Ø  Metode grafik Probit
Hewan uji diberi dosis-dosis yang menurun secara ekponensial sehingga didapatkan data presentasi kematian berupa garis linier. Taraf kepercayaan dapat diperoleh dengan menggunakan rumus:
 
Ø  Metode Farmakope Indonesia III
Rumus : m = a – b (ΣPi – 0,5)



1.    Penentuan LD50 Akut
Uji toksisitas kronis adalah  uji toksisitas yang meliputi pengamatan terhadap stimulus-stimulus yang dapat menghambat atau mengganggu kehidupan biota uji secara terus menerus dalam jangka waktu relatif lama. Uji toksisitas kronis harus mempertimbangkan hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas kehidupan biota uji seperti pertumbuhan, reproduksi dsb.
Jumlah dan spesies pada uji ini biasanya memakai satu spesies hewan atau lebih. Kecuali ada indikasi lain biasanya dipakai tikus, anjing, primata. Jumlah untuk tikus 40-100 ekor dalam setiap kelompok perlakuan dan kontrol.
Persiapan Pengujian
a.    Metode Pengujian
Dua metode umum penentuan LD50 adalah metode non-grafik (mengasumsikan respon tidak terdistribusi secara normal) dan metode grafik (asumsi respon terdistribusi secara normal). Metode monografik dicontohkan dengan Thompson’s Moving  Average Method

b.    Data Hewan
Hewan percobaan harus dikarakterisasikan dalam hal spesies, strain, dan karakteristik fisiologis dan morfologisnya. Sangat penting untuk memilih hewan secara acak untuk setiap kelompok level-dosis Higienitas dan pengaruh lingkungan merupakan faktor penting dalam penggunaan hewan uji

c.    Usia, Bobot Badan, dan Jenis Kelamin
Penting untuk menentukan usia, bobot badan, dan jenis kelamin hewan uji karena perbedaan usia menentukan kematangan fungsi organ serta aktivitas enzim. Respon terhadap dosis juga akan berbeda tergantung kepada usia dan bobot badan. Hewan yang hamil tidak boleh digunakan untuk pengujian. Untuk pengujian LD50 sering digunakan hewan uji  bobot 200-250 gram tikus dan mencit bobot 20-30 gram.
d.    Spesies dan Suku Hewan
Tikus dan mencit yang merupakan spesies yang sama sering digunakan untuk pengujian LD50. keuntungannya adalah untuk memperoleh keseragaman relatif dan ketersediaannya.
Jumlah hewan yang berada dalam satu kandang harus seragam. Kepadatan hewan dalam satu kandang mempengaruhi pengukuran LD50.

e.    Persiapan Bahan Pengujian
Perbedaan dalam persiapan bahan pengujian bisa menjadi sebab perbedaan hasil yang diperoleh dalam pengujian LD50 dalam literatur untuk zat yang sama.
Bahan percobaan yang akan diujikan sebaiknya tidak diencerkan terlebih dahulu. Untuk bahan padatan sebaiknya digerus terlebih dahulu.

2.    Penentuan LD50 Sub-kronis/Sub-akut
Uji toksisitas subkronis adalah uji ketoksikan suatu senyawa yang diberikan dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu, selama kurang dari 3 bulan. Uji ini ditujukan untuk mengungkapkan spectrum efek toksik senyawa uji serta untuk memperlihatkan apakah spectrum efek toksik itu berkaitan dengan takaran dosis.
Pengamatan dan pemerikasaan yang dilakukan dari uji ketoksikan subkronis meliputi :
a.    Perubahan berat badan yang diperiksa paling tidak tujuh hari sekali.
b.    Masukan makanan  untuk masing-masing hewan atau kelompok hewan yang diukur paling tidak tujuh hari sekali.
c.    Gejala kronis umum yang diamati setiap hari.
d.    Pemeriksaan hematologi paling tidak diperiksa dua kali pada awal dan akhir uji coba.
e.    Pemeriksaan kimia darah paling tidak dua kali pada awal dan akhir uji coba.
f.      Analisis urin paling tidak sekali.
g.    Pemeriksaan histopatologi organ pada akhir uji coba.
Tata Cara Pelaksanaan
1)    Pemilihan hewan uji, dapat digunakan roden (tikus) dan nirroden (anjing), sebaiknya dipilih hewan uji yang peka dan memiliki pola metabolisme terhadap senyawa uji yang semirip mungkin dengan manusia. Disarankan paling tidak satu jenis hewan uji dewasa, sehat, baik jantan maupun betina. Jumlah yang digunakan paling tidak 10 ekor untuk masing-masing jenis kelamin dalam setiap kelompok takaran dosis yang diberikan.
2)    Pengelompokan, minimal ada empat kelompok uji yaitu 3 kelompok dosis dan 1 kelompok kontrol negatif. Hal ini disebabkan karena untuk regresi minimal digunakan 3 data sehingga dapat dianalisis hubungan dosis dengan efek.
3)    Takaran dosis, bergerak dari dosis yang sama sekali tida menimbulkan efek toksis sampai dengan dosis yang betul-betul menimbulkan efek toksik yang nyata. Minimal digunakan 3 peringkat dosis degan syarat dosis yang tetinggi sebisa mungkin tidak mematikan hewan uji tetapi memberi wujud efek toksik yang jelas (nyata). Sedangkan dosis terendah yang digunakan setingkat dengan ED50-nya.
4)    Pengamatan, berupa wujud efek toksik atau spektrumnya, semua jenis perubahan harus diamati.
Studi subkronik dirancang  untuk menentukan efek samping paparan yang diulang secara reguler dalam rentang  periode dari beberapa hari sampai enam bulan.  Tingkat paparan normalnya lebih rendah dari pada yang ditemukan pada studi akut.
Kematian bukan merupakan titik akhir, dan rute paparan normalnya mencakup rute paparan yang diantisipasikan pada manusia.
Prosedur  pengujian secara umum lebih ekstensif dan terperinci dibandingkan dengan studi akut. Semua data kuantitatif harus diolah secara statistik untuk membandingkan kelompok hewan uji dan kontrol. Studi bisa menyertakan baik hewan yang sudah dewasa maupun belum, dengan mempertimbangkan populasi manusia yang memiliki resiko terhadap paparan yang diujikan

C.     Prosedur Pengujian LD50
Tujuan uji toksisitas akut adalah untuk menetapkan potensi toksisitas akut (LD50), menilai gejala kilinis, spectrum efek toksik, dan mekanisme kematian.
Untuk uji toksisitas akut perlu dilakukan pada sekurang-kurangnya satu spesies hewan coba, biasanya spesies hewan pengerat yaitu mencit atau tikus, dewasa atau muda  dan mencakup kedua jenis kelamin.
Perlakuan berupa pemberian obat pada masing-masing hewan coba dengan dosis tunggal. Terkait dengan upaya mendapatkan dosis letal pada uji LD50, pemberian obat dilakukan dengan besar dosis bertingkat dengan kelipatan tetap. Penentuan besarnya dosis uji pada tahap awal bertolak dengan berpedoman ekuipotensi dosis empiric sebagai dosis terendah, dan ditingkatkan berpedoman ekuipotensi dosis empiric sebagai dosis terndah, dan ditingkatkan berdasarkan factor logaritmik atau dengan rasio tertentu sampai batas yang masih dimungkinkan untuk diberikan. Cara pemberian diupayakan disesuaikan dengan cara penggunaannya.
Pada uji toksisitas akut ditentukan LD50, yaitu besar dosis yang menyebabkan kematian (dosis letal) pada 50% hewan coba, bila tidak dapat ditentukan LD50 maka diberikan dosis lebih tinggi dan sampai dosis tertinggi yaitu dosis maksimal yang masih mungkin diberikan pada hewan coba. Volume obat untuk pemberian oral tidak boleh lebih dari 2-3% berat badan hewan coba.
Setelah mendapatkan perlakuan berupa pemberian obat dosis tunggal maka dilakukan pengamatan secara intensif, cermat, dengan frekuensi selama jangka waktu tertentu yaitu 7-14 hari, bahkan dapat lebih lama antara lain dalam kaitan dengan pemulihan gejala toksik.
Langkah-langkah pengujian:
1.    Rute Pemberian
Rute pemberian oral merupakan rute yang paling umum diberikan untuk penentuan dosis letal median. Volume cairan maksimal yang diberikan berbeda tergantung jenis hewan yang digunakan. Untuk tikus biasa diberikan cairan sebanyak 4-5 ml. Untuk bahan yang tidak larut dalam pembawa berair maksimum pemberian adalah 1,5-2 ml dan diberikan dalam perangkat yang berminyak.

2.    Periode Observasi
Waktu pengamatan sangat penting untuk ditentukan dan tergantung kepada jenis zat uji terutama jika ada kemungkinan efek kematian yang lambat. Pengamatan selama 14 hari cukup untuk kebanyakan senyawa. Pengamatan pada hari terakhir harus tetap dilakukan hingga diketahui apakan hewan dapat pulih atau mati. Waktu pengamatan bisa ditentukan berdasarkan reaksi toksisitas, laju onset, dan lama periode pemulihannya.

3.    Perekaman Tanda-tanda
Pengamatan harus dicatat secara sistematik dan catatan terpisah harus dibuat untuk masing-masing hewan. Mungkin akan muncul respon yang berbeda untuk satu tingkat dosis yang diberikan. Onset dan durasi tanda toksisitas bisa diatikan apakah kerja farmakologis atau kerusakan organ sedang terjadi. Perubahan secara fisik harus dicatat.
Perlambatan kematian bisa mengindikasikan potensi yang signifikan untuk efek kumulatif

4.    Perubahan Bobot Tubuh Hewan
Efek toksik yang parah kadang bisa diketahui dengan membandingkan bobot hewan yang diuji. Hewan yang bertahan hidup harus ditimbang bobotnya setidaknya satu kali selama pengujian. Catatan tentang makanan dan air yang diberikan harus ada. Kelaparan mempengaruhi respon farmakologis selain bobot dan kandungan air dalam organ.

5.    Pembedahan
Pembedahan terhadap beberapa hewan yang dapat bertahan hidup sebagaimana terhadap yang mati setelah pemberian dosis dapat memberikan petunjuk yang bermanfaat terhadap tipe toksisitas yang diberikan oleh senyawa uji. Dengan demikian, pembedahan harus menjadi bagian dari prosedur pengujian.


6.    Evaluasi
Idealnya, untuk memastikan gangguan kesehatan yang potensial terhadap manusia dari suatu senyawa, studi toksisitas harus dilakukan terhadap hewan yang memiliki metabolisme terhadap senyawa yang mirip dengan manusia. Dalam hal ini, hewan pengerat merupakan subjek uji awal yang bisa digunakan. Derajat toksisitas yang mirip pada beberapa spesies mengindikasikan toksisitas manusia bisa diperbandingkan.

























BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
1.    LD50 adalah dosis tertentu yang dinyatakan dalam miligram berat bahan uji per kilogram berat badan (BB) hewan uji yang menghasilkan 50% respon kematian pada populasi hewan uji dalam jangka waktu tertentu.
2.    Tujuan dilakukan penentuan LD50 adalah untuk mencari besarnya dosis tunggal yang membunuh 50% dari sekelompok hewan coba dengan sekali pemberian bahan uji. Penentuan LD50 dibagi atas penentuan LD50 akut/kronis dan penentuan LD50 sub-akut/sub-kronis

3.    Tujuan uji toksisitas akut adalah untuk menetapkan potensi toksisitas akut (LD50), menilai gejala kilinis, spectrum efek toksik, dan mekanisme kematian. Prosedur pengujian LD50 yaitu dimulai dari rute pemberian, periode observasi, perekaman tanda-tanda, perubahan bobot tubuh hewan, pembedahan, dan langkah akhir melakukan evaluasi

0 komentar:

Posting Komentar